Perkembangan Bahasa dan Sastera Daerah
“Rancage”
(penghargaan sastera) setiap tahun,sejak 15 tahun yang lalu untuk sastera
bahasa Sunda,10 tahun yang lalunya lagi untuk sastera bahasa Jawa,dan 6 tahun
yang lalunya lagi untuk sastera bahasa Bali, memberikan kesempatan kepada
penulis untuk mengikuti perkembangan sastera daerah di Indonesia. Seperti
tercermin dalam ketiga bahasa daerah tersebut,perlu dikemukakan bahwa karya
sastera bahasa daerah yang dinilai untuk mendapat hadiah sastera”Rancage”
terbatas hanya pada karya-karya sastera moderen yang terbit berupa buku.
Pembatasan itu perlu dilakukan agar tidak uasah mengikuti dan menilai
karya-karya sastera dalam bahasa daerah yang bertebaran di dalam majalah ataun
surat kabar juga harus dinilai,tetapi dari pihak perkembangan berterus terang
bahwasanya tak mampu untuk melakukan semua itu.
Dan Hanya dalam ke tiga bahasa itulah ada karya
sastera moderen yang terbit berupa buku. Yang di maksud karya sastera moderen
di sini adalah karya sastera ciptaan seseorang zaman sekarang, baik dalam
bentuk karya sastera pengaruh dari Eropa (roman,sajak,cerita pendek,esai,drama)
maupun dalam bentuk tradisional daerahnya.Sebab bentuk-bentuk sastera
tradisional daerah sampai batas tertentu masih diminati orang,baik penulis
maupun pembaca. Dalam Bahasa Sunda ada beberapa sasttawan yang menulis geguritan,yaitu puisi tradisional
pengaruh Jawa yang berbentuk dangding
yang terikat jumlah larik setiap bait,jumlah engang setiap larik, bunyi vokal
terakhir setiap lirik, dan berbgai ketentuan lain. Malah ada beberapa buku
kumpulan geguritan yang terbit
antarnyaJemparing Hariring (Anak
Panah senandung) oleh Dedy Windyagiri,Geguritan
Munggah Haji oleh Yus Rusyana, Jaladri
Tingtrim (Lautan Tentram) oleh Dyah Padmini, dan masih banyak yang lain.
Salah satu dari karya-karya sastera tersebut yang mendapatkan Hadiah Rancage
adalah Jaladri Tintrim yang di karang
oleh Dya Padmini pada tahun 2001.
Para saartawan yang
menulis dalam bahasa daerah itu baik dalam bahasa jawa,bahasa Sunda, maupn
bahasa Bali, tidak semauaanya dari generasi tua. Memanag ada orang-orang yang
di lahirkan ada tahun 1920-an dan 1940-an namu
setiap saat selalu uncul penulis baru dari generasi yyang lebuh muda.
Dalam ketiga bahasa ini daerah itu misalnya, terdapat sastrawan kelahiran tahun 1950-an,tahun 1960-an,tahun
1970-an,ahkan tahun 1980-an Mereka yang kelahiran 1930-an ketika di sekolah
masih sempat belajar bahasa daerah, bahkan mungkin di sekolah dasar di
pergunkan bahasa daerah sebagai pengantar seluru mata pelajaran.
Yang lahir pada tahun 1940-an atau sesudahna
adalah generasi ang bukan saja tidak sempat
belajar bahasa daerah dengan baik, melainkan tidak sempat membaca buku-buku
dalam bahasa daerah terbitan sebalum perang yang hancur dimakan waktu. Balai
pustaka tidak lagi menerbitkan buku-buku bahasa dae, kalaupun ada jumlahnya
sangat tidak memadai. Penerbit partikelir yang pada masaa sebelum perangbanyak
ang aktif,pada masa sesudah perang sejak zaman pendudukan Jepang tidak ada yang
melanjutkan uashanya. Dengan demikian generasi ini tidak mendapat
kesempatan bertemu secara leluasa dengan
buku-buku bahasa daerah yang pernah terbit. Namun ketika meeka duduk di kelas
1-3 SD mereka masih belajar dengan bahasa pengantar bahasa daerahnya. Generasi
yang lahir akan tahun 1960-an bahkan lbih repot lagi, karena sewaktu mereka SD
sudah di tetapkan kurikulum 1975 ang mengantakan bahwa bahasa pengantar di
seluruh Indonesia sejak kelas I SD atau bahkan sejak TK harus dalam menggunakan
bahasa Indonesia, sehingga di sekolah mereka bertemu dengan bahasa daerah hana
sebagai mata pelajaran.
Kenyataan itu menimbulkan pertanyaan Doronganapakah yang telah menebabkna mereka menulis dalam bahasa daerahnya? Umumnya
mereka dapat dan lebih mudah kalu menulis dalam bahasa Nasional, bahasa
Indonesia. Lagi pula kalau menulis dalam bahasa Indonesia, mereka akan lebih
mudah mendapatkan tempat untuk memuatkan karanganna itu karenaa media jauh
lebih banyak. Dan honorariumnya pun jumlahnya lebih banyak pula.
Sampai sekarang belum ada penilitian yang dilakukan untuk menjawab
pertanyaan tersebut, sehingga jawaban yang ada hanyalah dugaan-dugaan belaka
misalnya bahwa rasa cinta akan bahasa daerahnya lah yang mendorong mereka
menulis dalam bahasa daerahnya itu. Tapi bagaimana tumbuhnya rasa cinta itu tak
pernah jelas, yang jelas umumnya mereka merasa lebih sukar menulis dalam bahasa
daerah, terutama karena kurangnya buku yang dapat mereka jadikan sebagai contoh
penulisan bahasa daerah yang baik.Umumnya penerbitan itu lebih di dorong oleh
rasa cinta terhadap bahasa daerah sehingga kebanyakan tidak dilakukakn secara
professional, baik redaksional maupun pemasaran nya.Jumlah tirasnya sekarang
cenderung menurun.Umumnya juga mereka bukan saja membayar honorarium tulisan
dari luar (sangat) rendah, melainkan juga gaju para karyawan pum lebih rendah
daripada karyawan di penerbitan dalam bahasa nasional.Umumnya kelangsungan
hidup penerbitan itu tergantung pada langganan, sedangkan iklan tak dapat di
harapkan karena pemasangan iklan cenderung lebih suka memasang iklan dalam
penerbitan bahasa nasional.
Secara apriori para pemansang ikln menganggap pembacanya terbatas.
Isi umunmny-a berupa cerita, baik cerita pencek maupun cerita
bersambung,disamping itu banyak memuat puisi,terutama sajak (geguritan dalam
bahasa Jawa) dan puisi tradisional(atau gegurutan dalam bahasa Sunda).
Tulisan-tulisan yang lain kebaika agama,sejarah atau legenda,kepercayaan adanya
yang gaib-gaib,perimbon,pengobatan tradisional dan semacamnya. Ada juga
berita,tetapi uumnya jauh terlambat dibandingkan dengan pers bahasa Nasional.
Bahsa jawa da Sunda yang dahulu pernah menjadi bahasa budya yang
pernah dipergunakan untuk menulis mengenai apa saja tentang kehidupan dan
ebudayaan masing-masing, sehigga melahirkan karya seperti serat centini
dala bahasa Jawa, yan sekarang dipergunakan sebagai bahasa lisan (itu pu hanya
sekedar untuk berkomunikasi sehari-hari, namun begitu kalau mengemukakan hal
yang lebirumit secara otomatis pindah kode kedala bahasa Indonesia) dan bahasa
tulisan berupa artikel pendek, di samping di gunakan untuk penulisa cerita dan
sajak. Tidak ada penulisa karyailmiah yang serius dalam bahasa daerah
Artinya pengembangan bahasa dan sastera daerahsepenunya tergantung
kepada orang-orang yang memiliki bahasa dan daersh persekutuan, Para pepencinta
dan ahli bahasa serta saster daerah hendaknya berhenti mengharapkan sesuatuyng
mustahilsperti mengharapakn pemerintah, baik di pusat dan di daerah akan turun
tangan membina dan mengembangkan bahasa dan saster daerah secara konseptual dan
kontinyu. Memang ada usaha pembinaan dan pengembangan bahasa dan satera daerah
yang wewenagnya berada penuh di tangan pemerintah seperti pengajara di
sekola-sekolah karena pemerintah yang mengatur kurikulum, begitu juga
pembentukan perpustakaan disekolah-sekolah yan isinya dari buk bahasa daerah
juga. Tetapi penyedian buku dalambahasa daerah agar anak-anak memeperoleh
kesempatan untuk membaca buku dalam bahasa daerahnya dapat dilakukan.Tentu saja
untuk semua itu harus tersedia modal dan tenaga Profesional
Langakah yang sangat penting adalah bagaimana caranya membuat orang
Indonesia suka membaca buku dalam bahasa apapun juga. Usaha kea rah itu sudah
berkalai sejak 60 tahun,sehingga kegemaran membaca bangas kita sekarang
mendekati titik nol dan kita menjadi bangsa yang paling sedkit membaca di
dunia. Dalam hal ini memang tanggung jawab pemerintahlah yang terbesar. Namun
belakangan sudah mulia mincul orang-orang yang sadar dalam hal ini kita tak
dapat mengharapkan sesuatu yang kongkrit dilakukan oleh peerintah, sehingga
mereka sendiri terjun mengajar dan menyediakan buku acaan bagi anak-anak
jalanan yang terlantar, atau menyumbangkan buku untuk engisi
perpustakaan-perpustakaan yang mulai didirikan orang, perusahaan juga ada yang
mulai giat dalam bidang ini.
Hanya dengan melakuka hal-hal kecil kongkrit seperti
menyelenggarakan penerbitan buku bahasa daerah secara professional, mendirika
perpustakaan yang juga menyediakan buku bahasa daerah dalam koleksinya,masa
depan bahasa da sastera daerah yang berkembang.
Hal yeng seperti inijuga berlaku bua mereka yang ingin bergerak
dalam bidang radio dan televisi. Mengadakan siaran bahasa dan kesenian daerah
sebanyak mungkin akan menumbukan minat apresiasi masyarakat terhadap bahasa dan
kesenia daerah. Mereka yangbernggapan bahwa anak-anaktidak dapat atau tidak
menyukai kesenian daeranya sendiri dan lebih menggemar music popdan semacamnya
yan datang dari luar, lupa bahwa hal itu di sebabkan faktor kesempatan
kesempatan. Sementar music pop dan semacamnya yang datang dari luar di dukung
oleh modal kuat sehuingga dapat didengar orang setiap setiap saat melalui
radio,televise,kaset,dan lain-lain, kesenian daerah kia sedkit dan kia aran
tampil. Baik dalam bentuk pertunjukan di atas panggung maupun melalui siara
radio atau televise. Kalau kesenian-kesenian daerah mendapat kesempatan di
tonton dan didengarka secara terus-menerus,niscaya akan menumbuhkan minat dan
apresiasi generasi muda terhadapnya.
selanjutnya,,,,
No comments:
Post a Comment