sponsor 3

Thursday, September 13, 2018

Perkembangan Bahasa dan Sastera Daerah Di Indonesia


Perkembangan Bahasa dan Sastera Daerah

                        “Rancage” (penghargaan sastera) setiap tahun,sejak 15 tahun yang lalu untuk sastera bahasa Sunda,10 tahun yang lalunya lagi untuk sastera bahasa Jawa,dan 6 tahun yang lalunya lagi untuk sastera bahasa Bali, memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti perkembangan sastera daerah di Indonesia. Seperti tercermin dalam ketiga bahasa daerah tersebut,perlu dikemukakan bahwa karya sastera bahasa daerah yang dinilai untuk mendapat hadiah sastera”Rancage” terbatas hanya pada karya-karya sastera moderen yang terbit berupa buku. Pembatasan itu perlu dilakukan agar tidak uasah mengikuti dan menilai karya-karya sastera dalam bahasa daerah yang bertebaran di dalam majalah ataun surat kabar juga harus dinilai,tetapi dari pihak perkembangan berterus terang bahwasanya tak mampu untuk melakukan semua itu.
Dan Hanya dalam ke tiga bahasa itulah ada karya sastera moderen yang terbit berupa buku. Yang di maksud karya sastera moderen di sini adalah karya sastera ciptaan seseorang zaman sekarang, baik dalam bentuk karya sastera pengaruh dari Eropa (roman,sajak,cerita pendek,esai,drama) maupun dalam bentuk tradisional daerahnya.Sebab bentuk-bentuk sastera tradisional daerah sampai batas tertentu masih diminati orang,baik penulis maupun pembaca. Dalam Bahasa Sunda ada beberapa sasttawan yang menulis geguritan,yaitu puisi tradisional pengaruh Jawa yang berbentuk dangding yang terikat jumlah larik setiap bait,jumlah engang setiap larik, bunyi vokal terakhir setiap lirik, dan berbgai ketentuan lain. Malah ada beberapa buku kumpulan geguritan yang terbit antarnyaJemparing Hariring (Anak Panah senandung) oleh Dedy Windyagiri,Geguritan Munggah Haji oleh Yus Rusyana, Jaladri Tingtrim (Lautan Tentram) oleh Dyah Padmini, dan masih banyak yang lain. Salah satu dari karya-karya sastera tersebut yang mendapatkan Hadiah Rancage adalah Jaladri Tintrim yang di karang oleh Dya Padmini pada tahun 2001.
            Para saartawan yang menulis dalam bahasa daerah itu baik dalam bahasa jawa,bahasa Sunda, maupn bahasa Bali, tidak semauaanya dari generasi tua. Memanag ada orang-orang yang di lahirkan ada tahun 1920-an dan 1940-an namu  setiap saat selalu uncul penulis baru dari generasi yyang lebuh muda. Dalam ketiga bahasa ini daerah itu misalnya, terdapat sastrawan  kelahiran tahun 1950-an,tahun 1960-an,tahun 1970-an,ahkan tahun 1980-an Mereka yang kelahiran 1930-an ketika di sekolah masih sempat belajar bahasa daerah, bahkan mungkin di sekolah dasar di pergunkan bahasa daerah sebagai pengantar seluru mata pelajaran.
                       
Yang lahir pada tahun 1940-an atau sesudahna adalah generasi ang bukan  saja tidak sempat belajar bahasa daerah dengan baik, melainkan tidak sempat membaca buku-buku dalam bahasa daerah terbitan sebalum perang yang hancur dimakan waktu. Balai pustaka tidak lagi menerbitkan buku-buku bahasa dae, kalaupun ada jumlahnya sangat tidak memadai. Penerbit partikelir yang pada masaa sebelum perangbanyak ang aktif,pada masa sesudah perang sejak zaman pendudukan Jepang tidak ada yang melanjutkan uashanya. Dengan demikian generasi ini tidak mendapat kesempatan  bertemu secara leluasa dengan buku-buku bahasa daerah yang pernah terbit. Namun ketika meeka duduk di kelas 1-3 SD mereka masih belajar dengan bahasa pengantar bahasa daerahnya. Generasi yang lahir akan tahun 1960-an bahkan lbih repot lagi, karena sewaktu mereka SD sudah di tetapkan kurikulum 1975 ang mengantakan bahwa bahasa pengantar di seluruh Indonesia sejak kelas I SD atau bahkan sejak TK harus dalam menggunakan bahasa Indonesia, sehingga di sekolah mereka bertemu dengan bahasa daerah hana sebagai mata pelajaran.
Kenyataan itu menimbulkan pertanyaan Doronganapakah yang telah menebabkna mereka menulis dalam bahasa daerahnya? Umumnya mereka dapat dan lebih mudah kalu menulis dalam bahasa Nasional, bahasa Indonesia. Lagi pula kalau menulis dalam bahasa Indonesia, mereka akan lebih mudah mendapatkan tempat untuk memuatkan karanganna itu karenaa media jauh lebih banyak. Dan honorariumnya pun jumlahnya lebih banyak pula.
Sampai sekarang belum ada penilitian yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut, sehingga jawaban yang ada hanyalah dugaan-dugaan belaka misalnya bahwa rasa cinta akan bahasa daerahnya lah yang mendorong mereka menulis dalam bahasa daerahnya itu. Tapi bagaimana tumbuhnya rasa cinta itu tak pernah jelas, yang jelas umumnya mereka merasa lebih sukar menulis dalam bahasa daerah, terutama karena kurangnya buku yang dapat mereka jadikan sebagai contoh penulisan bahasa daerah yang baik.Umumnya penerbitan itu lebih di dorong oleh rasa cinta terhadap bahasa daerah sehingga kebanyakan tidak dilakukakn secara professional, baik redaksional maupun pemasaran nya.Jumlah tirasnya sekarang cenderung menurun.Umumnya juga mereka bukan saja membayar honorarium tulisan dari luar (sangat) rendah, melainkan juga gaju para karyawan pum lebih rendah daripada karyawan di penerbitan dalam bahasa nasional.Umumnya kelangsungan hidup penerbitan itu tergantung pada langganan, sedangkan iklan tak dapat di harapkan karena pemasangan iklan cenderung lebih suka memasang iklan dalam penerbitan bahasa nasional.
Secara apriori para pemansang ikln menganggap pembacanya terbatas. Isi umunmny-a berupa cerita, baik cerita pencek maupun cerita bersambung,disamping itu banyak memuat puisi,terutama sajak (geguritan dalam bahasa Jawa) dan puisi tradisional(atau gegurutan dalam bahasa Sunda). Tulisan-tulisan yang lain kebaika agama,sejarah atau legenda,kepercayaan adanya yang gaib-gaib,perimbon,pengobatan tradisional dan semacamnya. Ada juga berita,tetapi uumnya jauh terlambat dibandingkan dengan pers bahasa Nasional.
Bahsa jawa da Sunda yang dahulu pernah menjadi bahasa budya yang pernah dipergunakan untuk menulis mengenai apa saja tentang kehidupan dan ebudayaan masing-masing, sehigga melahirkan karya seperti serat centini dala bahasa Jawa, yan sekarang dipergunakan sebagai bahasa lisan (itu pu hanya sekedar untuk berkomunikasi sehari-hari, namun begitu kalau mengemukakan hal yang lebirumit secara otomatis pindah kode kedala bahasa Indonesia) dan bahasa tulisan berupa artikel pendek, di samping di gunakan untuk penulisa cerita dan sajak. Tidak ada penulisa karyailmiah yang serius dalam bahasa daerah
Artinya pengembangan bahasa dan sastera daerahsepenunya tergantung kepada orang-orang yang memiliki bahasa dan daersh persekutuan, Para pepencinta dan ahli bahasa serta saster daerah hendaknya berhenti mengharapkan sesuatuyng mustahilsperti mengharapakn pemerintah, baik di pusat dan di daerah akan turun tangan membina dan mengembangkan bahasa dan saster daerah secara konseptual dan kontinyu. Memang ada usaha pembinaan dan pengembangan bahasa dan satera daerah yang wewenagnya berada penuh di tangan pemerintah seperti pengajara di sekola-sekolah karena pemerintah yang mengatur kurikulum, begitu juga pembentukan perpustakaan disekolah-sekolah yan isinya dari buk bahasa daerah juga. Tetapi penyedian buku dalambahasa daerah agar anak-anak memeperoleh kesempatan untuk membaca buku dalam bahasa daerahnya dapat dilakukan.Tentu saja untuk semua itu harus tersedia modal dan tenaga Profesional
Langakah yang sangat penting adalah bagaimana caranya membuat orang Indonesia suka membaca buku dalam bahasa apapun juga. Usaha kea rah itu sudah berkalai sejak 60 tahun,sehingga kegemaran membaca bangas kita sekarang mendekati titik nol dan kita menjadi bangsa yang paling sedkit membaca di dunia. Dalam hal ini memang tanggung jawab pemerintahlah yang terbesar. Namun belakangan sudah mulia mincul orang-orang yang sadar dalam hal ini kita tak dapat mengharapkan sesuatu yang kongkrit dilakukan oleh peerintah, sehingga mereka sendiri terjun mengajar dan menyediakan buku acaan bagi anak-anak jalanan yang terlantar, atau menyumbangkan buku untuk engisi perpustakaan-perpustakaan yang mulai didirikan orang, perusahaan juga ada yang mulai giat dalam bidang ini.
Hanya dengan melakuka hal-hal kecil kongkrit seperti menyelenggarakan penerbitan buku bahasa daerah secara professional, mendirika perpustakaan yang juga menyediakan buku bahasa daerah dalam koleksinya,masa depan bahasa da sastera daerah yang berkembang.
Hal yeng seperti inijuga berlaku bua mereka yang ingin bergerak dalam bidang radio dan televisi. Mengadakan siaran bahasa dan kesenian daerah sebanyak mungkin akan menumbukan minat apresiasi masyarakat terhadap bahasa dan kesenia daerah. Mereka yangbernggapan bahwa anak-anaktidak dapat atau tidak menyukai kesenian daeranya sendiri dan lebih menggemar music popdan semacamnya yan datang dari luar, lupa bahwa hal itu di sebabkan faktor kesempatan kesempatan. Sementar music pop dan semacamnya yang datang dari luar di dukung oleh modal kuat sehuingga dapat didengar orang setiap setiap saat melalui radio,televise,kaset,dan lain-lain, kesenian daerah kia sedkit dan kia aran tampil. Baik dalam bentuk pertunjukan di atas panggung maupun melalui siara radio atau televise. Kalau kesenian-kesenian daerah mendapat kesempatan di tonton dan didengarka secara terus-menerus,niscaya akan menumbuhkan minat dan apresiasi generasi muda terhadapnya.
selanjutnya,,,,

No comments:

Post a Comment