pengertian,ciri dan dampak globalisasi
A. Pengertian
Globalisasi
Globalisai, secara ringkas, dapat di
jelaskan dengan satu kata : “mendunia”. Artinya, sistem kehidupan telah berada
dalam skala internasional, lintas bangsa, negara,budaya, dan agama. Efek
globalisasi sangat luas, mencakup semua aspek kehidupan, baik dalam komunitas
sosial, suku, keluarga, bahkan individu. Mobilitas dan dinamika blobalisasi
sulit di deteksi, diprediksi, dan diantisipasi dengan panca indra. Globalisasi
dimulai dari runtuhnya tembok Berlin tahun 1989 dan melesat oleh adanya
revolusi teknologi informasi.
B. Ciri
dan Paradoks Globalisasi
Globalisasi memiliki banyak
ciri, diantaranya adalah :
1. Integrasi
Integrasi
ini di simbolkan dengan kata web ‘jaringan’.
Jika dulu sistem di bangun dengan divisi dan sekat-sekat, sistem sekarang di
bangun secara bertahap dengan integrasi dan jaringan. Semakin luas jaringan
kita, semakiin efisien pula kehidupan.
2. Kapitalisme
pasar bebas
Dengan
pasar yang semakin berkuasa, perekonomian pun ditentukan oleh perdagangan bebas
dan kompteisi. Kapitalisme pasar bebas ditandai dengan AFTA (Asean Free Trade
Area) pada tahun 2003, dimana semua negara ASEAN menjadi pasar tebuka dan semua
negara bisa bersaing bebas. Diantara mereka ada yang kaya, seperti Singapura,
Brunei, disusul Thailand dan Malaysia. Sedangkan Indonesia masih belum beranjak
dari krisis.
3. Amerikanisasi
Negara-negara
super power melakukan ekspansi budaya besar-besaran
sehingga pengaruhnya sangat dominan di negara-negara berkembang. Mc Donald’s,
Coca Cola, Kentucky, pabrik jeans dan t-shirt, media, seperti CNN,Forbes, dan
lain-lain merambah serta mempengaruhi masyarakat dunia. Hal ini adalah kesalah
pahaman, dengan memahami modernisasi dengan simbol makanan. Sebab, di negara
asalnya, Amerika Serikat, makanan-makanan itu adalah sampah karena mengandung
banyak lemak dan kurang vitamin. Makanan ini hanya dimakan ketika tidak ada uang
atau terburu-buru waktu. Orang Amerika yang sadar gizi selalu mengkonsumsi good food, seperti salad dan sup, serta
menghindari junk food. Ironisnya,
yang terakhir disebutkan justru menjadi gaya hidup masyarakat Indoneisa.
4. Digitalisasi
Komputerisasi,
miniaturisasi, komunikasi satelitoptik, internet, dan digitalisasi adalah ciri
globalisasi. Miniaturisasi terdapat dalam berbagai macam perangkat teknologi
canggih, misalnya telelpon genggam. Digitalisasi memberikan presisi dan akurasi
lebih tinggi yang dapat dijumpai di mana-mana, mulai dari radio hingga kamera.
Satelit komunikasi Palap telah menyatukan nusantara selama lebih dari dua
dekade.
5. Kecepatan
Ukuran
di masa lalu di tentukan oleh berat, sedangkan sekarang, oleh kecepatan,
misalnya kecepatan perdagangan, perjalanan,komunikasi, dan inovasi. Kecepatan
komunikasi internet menjadikan dunia seolah sudah menyatu.
6. Perpindahan
penduduk dengan frekuensi tinggi
Perpindahan
penduduk masa kini dapat melintasi batas konvensional negara. Mobilitas tenaga
kerja terjadi di mana-mana, mulai dari malaysia, singapura, korea, Hongkong,
Arab Saudi, hingga Negara Timur Tengah lainnya. Tenaga kerja asing dari
Amerika, Inggris, Korea, Jepang, China, dan lain-lain pulang pergi ke-Indonesia.
Sayangnya, kebanyakan profesi tenaga kerja Indonesia di luar negeri adalah
pembantu rumah tangga, kuli bangunan, sopir, perawat rumah sakit dan rumah
jompo. Sedangkan profesi orang asing di Indonesia adalah posisi eksekutif,
direktur, manajer, konsultan, dan lain-lain. Sebelum pasar bebas AFTA 2003,
pemerintah bisa melindungi tenaga kerja kita di dalam negeri dengan menerapkan
restriksi dan syarat ketat untuk tenaga asing. Tapi, tapi pasca pasar bebas
berlaku, hal ini tidak terelakan lagi.
Mathma
Gadhi menyebutkan tujuh penyakit globalisasi yang menarik kita cermati, yaitu :
a. Politik
tanpa prinsip ;
b. Kaya
tanpa bekerja ;
c. Pendidikan
tanpa karakter ;
d. Perdagangan
tanpa moralitas ;
e. Kenikmatan
tanpa hati nurani ;
f. Ilmu
pengetahuan tanpa kemanusiaan; dan
Ciri tersebut seharusnya membuat
masyarakat dunia waspada dan tidak menuhankan globalisasi, karena di dalamnya
tersimpan kepentingan tersembunyi negara maju untuk menjajah ekonomi,
pendidikan, peradaban, dan politik negara berkembang dan terbelakang, bukan
membuat mereka sejahtera.
C. Dampak
Negatif Globalisasi
Globalisasi betul-betul telah membawa
dampak serius bagi kehidupan manusia. Kerusakan ekosistem dan kehidupan secara
umum di era ini sudah sangat parah. J.F. Rischard menjelaskan kerusakan ini
sebagai berikut :
1. Jumlah
penduduk dunia pada tahun 2020-2025 diperkirakan bertambah dari 6 milyar
menjadi 8 milyar. Sejumlah 95% dari pertambahan tersebut terjadi
dinegara-negara berkembang.
2. Suhu
panas bumi meningkat.
3. Panggilan
kekayaan alam dan perut bumi, di darat dan laut, terus berjalan secara brutal.
4. Hujan
lebat, permukaan air laut meningkat, dan terjadi pencemaran air laut.
5. Ekosistem
rusak dan keragaman spesies banyak berkurang, bahkan menjadi langka.
6. Pemenuhan
kebutuhan ikan sebagai sumber protein berkurang drastis.
7. Hutan
lambat laun semakin gundul.
8. Konflik,
teror, dan bom terjadi dimana-mana secara global.
9. Penyakit
menyebar keseluruh dunia, misalnya vius HIV/AIDS, malaria, TBC, radang
paru-paru, diare, cacar air, flu burung, dan lain sebagainya.
10. Pendidikan
semakin rusak. Satu dari enam anak-anak mengalami buta huruf : jumlahnya 60
juta wanita, 300 juta pria, 99% diantaranya bertempat tinggal di negara
berkembang. Di perkirakan, satu dari lima anak berumur 11-16 tahun (serta
dengan 115 juta orang) tidak mengenyam bangku sekolah.
11. Air
semakin langka.
12. Obat-obat
ilegal merajalela.
13. Terjadi
kesenjangan informasi digital.
14. Bencana
alam terjadi dimana-mana. Selama tahun 1990an, bencana alam, seperti gempa
bumi, banjir, hujan lebat, angin topan, dan lumpur menyerang bumi 500-800 kali
setiap tahun. Biaya yang digunakan untuk menanggulangi bencana ini tidak kurang
dari 600 milyar dolar.
Dampak negatif globalisasi terus
meningkat dari waktu kewaktu. Dunia akan semakin panas oleh keserakahan manusia
yang ingin menguasai bumi secara semena-mena, tanpa menjaga kerukunan dan
keseimbangan.
D. Dehumanisasi
Dalam konteks budaya,
globalisasi melahirkan dehumanisasi, yakni proses menghilangkan manusia dari
esensi kemanusiaannya yang suci dan membutuhkan nilai spiritualitas,
rasionalitas, keadilan, keseteraan, serta kesejahteraan lahir batin.
E. Dominasi
Barat
Dominasi barat ini akhirnya
melahirkan kebebasan seksual dimana-mana, kesenjangan yang lebar antara
kaya-miskin, ketidak adilan global dalam kebijakan politik luar negeri,
membanjirnya film dan menu di internet yang serba porno, turisme yang mengumbar
aurat, dan makanan-makanan yang tidak jelas kadar kesehatan dan kehalalannya.
Pergumulan dua budaya yang bertentangan antara islam dengan barat ini menjadi
tantangan serius madrasah, demi meramu nilai islam yang diterima dunia modern
tanpa kehilangan identitas utamanya.
No comments:
Post a Comment