Sistem dan Metode Mengajar
.1. Metode Praktik (peragaan)
Menyajikan dan menyuguhkan materi pelajaran melalui
metode ceramah adalah media yang bagus didalam memperoleh ilmu dan menuntut
ilmu. Akan tetapi metode ini akan bisa mencapai hasil gemilang bila digabung
dengan metode lain yaitu praktik. Maka apabila metode mengajar yang berbentuk
teori digabungkan dengan metode mengajar yang berbentuk teori digabungkan
dengan metode praktik dalam waktu yang bersamaan ditengah-tengah proses belajar
mengajar, akan menjadi faktor penting yang memperkokoh dan memantapkan
pelajaran diotak para siswa dan akan menjaganya dari kelupaan.
Metode praktik adakalanya dari pihak guru dan adakalanya
dari pihak siswa. Artinya, bahwa praktik atau peragaan itu bisa saja dilakukan
oleh guru ataupun siswa.
2. Mengajar Lewat Kisah
Kisah memiliki kemampuan luar biasa dalam menarik
perhatian jiwa dan memfokuskan indra sepenuhnya kepada orang yang berkisah. Itu
karena kisah secara ilmiah sangat disukai jiwa manusia, karena kisah mengandung
berita orang-orang yang telah lalu, menyebutkan peristiwa, keanehan-keanehan, dan
lain sebagainya. Kisah pada dasarnya memang melekat pada otak dan hampir-hampir
tidak terlupakan. Ini adalah perkara yang sangat jelas dan diketahui oleh
setiap orang. Karena itu al-qur’an al-karim memberinya perhatian lebih dengan
menyebutkan kisah-kisah didalam al-quran karena dapat menghibur hati, memupuk
tekad, mengambil ibrah dan pelajaran, mengetahui kisah orang-orang terdahulu, mengenang
peristiwa, dan masih banyak lagi. Al-qur’an al-karim tidak memuat kisah-kisah ini
semata untuk hiburan saja. Orang yang mencermati kisah-kisah ini akan menemukan
diantara bagian-bagiannya dan diantara sisi-sisinya terdapat pengukuhan
terhadap perkara-perkara tauhid. Demikian juga terdapat penjelasan
hikmah-hikmah Allah yang luar biasa dan SunnahNya pada hamba-hambaNya yang
tetap tidak akan berubah dan tidak pula berganti.
3.
Membuat Permisalan
Seorang guru dan seorang pendidik perlu saran yang akan
mendekatkan masalah yang rumit atau yang misteri kepada otak, atau yang akan
memperjelas tema yang sulit. Dengan kata lain, guru kadang dihadapkan pada
sebagian kesulitan untuk menyampaikan pelajaran kepada otak pendengar, maka dia
butuh kepada sarana lain yang akan membantunya memecahkan permasalahan ini dan
membuka jalan dihadapan otak siswa, sehingga dia dapat mempelajari masalah yang
sulit dengan mudah dan gampang.
Dari segi bahasa, Shighat “Almatsalu” dan
kata-kata yang diambil darinya memiliki arti penggambaran, penjelasan, tampak, hadir,
dan mempengaruhi. Dan “Almatsalu” adalah sesuatu yang ibuat yang
dijadikan sebagai permisalan, yang dengannya makna akan menjadi jelas, dan ia
juga adalah sifat sesuatu.
Membuat perumpamaan mengandung nilai plus bagi daya ingat
dan daya paham, serta merupakan visualisasi makna. Membuat pemisahan bisa
mendekatkan makna-makna yang rasional kepada contoh-contoh yang bisa dirasa, sehingga
makna yang dikehendaki Allah tampak jelas dengan sejelas-jelasnya serta tampak
terang dengan seterang-terangnya. Ini termasuk rahmat Allah dan permasalahanNya
yang sempurna. Maka hanya bagi Allah-lah pujian yang sempurna, lengkap dan menyeluruh.
Guru besar SAW. banyak membuat perumpamaan didalam ucapan
dan perkataan-perkataan beliau, disebabkan beliau mengetahui bahwa pemisalan
mempunyai kemampuan dahsyat dalam mendekatkan makna dan menjelaskan maksud.
4.
Metode Membangkitkan Rasa Penasaran
Metode membangkitkan rasa penasaran adalah sebuah metode
atau salah satu carauntuk membangkitkan semangatdan mengompori jiwa, karena
jiwa manusia selalu merasa penasaran untuk mengetahui setiap sesuatu yang baru.
Bahkan mengompori pelajar dan menimbulkan rasa penasaran padanya akan
membuatnya menelaah dan memperdalam ilmu dengan penuh rasa haus dan keinginan
yang kuat untuk mengetahui sesuatu yang dia merasa penasaran tentangnya.
.5.
Menggunakan Isyarat (Gerakan Tangan dan Kepala) Dalam Mengajar.
Guru tidak bisa terlepas dalam kondisi apapun dari (memberikan)
isyarat tangan dan kepala dalam praktik mengajarnya. Isyarat akan selalu
menyertai si pembicara, apapun jenis pembicaraanya. Sesungguhnya mata murid
akan terus mengikuti pada setiap gerakan dan diamnya guru. Oleh karena itu, dia
akan terpengaruh dengan reaksi balik yang diciptakan guru. Jadi kesimpulannya, murid
dapat terpengaruh dengan gerakan tangan dan kepala. Dan guru seringkali
memanfaatkan gerakan-gerakan dan isyarat-isyarat ini dalam beberapa perkara.
Yang pertama, menambah
kejelasan dan keterangan serta memberi penekanan pada suatu ucapan.
Yang kedua, menarik
perhatian dan mendalamkan dengan mantap sebagian makna didalam otak.
Yang ketiga, untuk
meringkas.
.6.
Menggunakan Gambar Untuk Menjelaskan dan Menerangkan.
Guru sangat membutuhkan sarana-sarana yang membantunya
dalam menyampaikan materi pelajaran dengan bentuk yang lebih utama dan lebih
mudah. Diantara sarana-sarana tersebut adalah papan tulis, dimana guru akan
dapat membantu proses penyampaian materinya dengan menulis atau menggambar
diatas papan tulis dan sejenisnya. Anda bisa melakukan perbandingan antara guru
yang menggabungkan antara ceramah dan menulis atau menggambar dipapan tulis
dengan guru yang hanya menggunakan metode ceramah saja. Pasti yang pertama akan
lebih cepat dipahami. Ini merupakan perkara yang tidak membutuhkan bukti lagi
untuk menetapkannya. Guru yang pertama telah mendahului kecanggihan sistem
pendidikan modern sejak 14 abad yang lalu, dimana beliau membantu ucapannya
disebagian pembicaraanya dengan gambar-gambar yang akan mendekatkan makna
kepada otak dan membantu menghafal.
7.
Menggunakan Metode Tanya Jawab Pada Saat Mengajar
Untuk menarik perhatian siswa, guru memerlukan sarana
yang beraneka dan metode yang beragam. Guru harus memvariasikan antara
sarana-sarana tersebut supaya siswa tidak gemar dengan satu metode tertentu, lalu
terbiasa dengannya kemudian hal itu tidak memberikan kesan dan pengaruh
padanya, dengan dasar hukum kebiasaan. Di antara sarana menarik perhatian yang
dibutuhkan guru adalah menggunakan metode pertanyaan diawal pembicaraan atau
ditengah-tengah pembicaraan, untuk menarik perhatian siswa dan memotivasinya
untuk menghadirkan pikiran.
Ungkapan “maukah” adalah kata tanya yang berfungsi untuk
mengingatkan dan memberikan motivasi untuk menangkap apa yang disampaikan dan
memahaminya sesuai dengan yang wajah esensinya.
Rasulullah tidak menunjuk orang tertentu untuk menjawab
pertanyaan yang dilantarkan, akan tetapi ungkapan-ungkapan beliau pada umumnya
menggunakan bentuk jamak secara umum. Ini memberi kita pelajaran bahwa guru
semestinya melantarkan pertanyaan terlebih dahulu, agar para siwa secara
keseluruhan ikut ambil bagian dalam menemukan jawaban bagi pertanyaan yang
dilantarkan tersebut. Kemudian dianjurkan bagi guru agar memberikan waktu yang
cukup sebelum mulai mendengar jawaban siswa, yang demikian itu karena kemampuan
akal siswa berbeda-beda dan tidak sama satu dengan yang lainnya, sebagian
mereka ada yang cepat dan sebagian lagi ada yang lebih lambat menghadirkan
akalnya. Dengan ini tampaklah bagi anda kesalahan yang dilakukan sebagian guru,
yaitu memberikan pertanyaan kepada siswa seusai urutan absensi atau sesuai
urutan tempat duduk mereka didalam kelas, karena metode ini menjadikan siswa
lain yang tidak mendapat bagian, tidak merasa ikut terbebani dengan beban
mencari jawaban, karena merasa cukup dihadapi oleh siswa yang ditunjuk oleh guru.
Adakalanya guru bertanya kepada sebagian siswanya dalam kondisi-kondisi
tertentu, seperti guru bermaksud mengejutkan siswa tertentu untuk menguji
kondisinya atau mengingatkannya dari kelalaiannya dan semisalnya.
8.
Guru Memotivasi Siswanya untuk Mengajukan Pertanyaan
Pertanyaan dapat menghilangkan banyak kesalahan dan
kekeliruan yang kadang-kadang siswa terjatuh didalamnya, dimana ketika guru
memaparkan penjelasan materi pelajarannya, dia tidak mengetahui dengan pasti, apakah
mereka telah memahami materi pelajarannya sebagaimana mestinya ataukah tidak. Dan
cara untuk mengetahuinya adalah dengan bertanya kepada mereka tentang sebagian
materi yang telah dipaparkan, dan lebih bagus dari itu jika siswa yang memulai
bertanya kepada gurunya tentang apa yang masih menjadi problem baginya. Bertanya
itu dapat memperjelas makna-makna yang tidak mampu untuk dipahami dan dihayati
oleh siswa, dan dapat memantapkan jawaban diotak penanya karena darinya timbul
pertanyaan. Bertanya dapat menghilangkan kejahilan.
Kebodohan atau bahasa arabnya “Al’iyyu” dengan
mengkasrahkan huruf ‘ain dan mentasydidkan huruf ya’ artinya
ngelantur dalam berbicara dan tidak akurat, demikian disebutkan dalam
ash-syihah. Dan didalam an-Nihayah dan Lisan al-arab, ”Al’iyyu”
adalah kejahilan, dan maknanya bahwa kejahilan adalah penyakit, dan
pengobatannya adalah bertanya dan belajar. Lantaran itu kita katakan kepada
guru agar mau momtivasi para siswanya untuk bertanya kepadanya. Di dalam
atsar-atsar yang sudah ada terdapat anjuran agar guru mengucapkan “bertanyalah
kepadaku!”. Di mana dalam ucapan ini terkandung motivasi bagi bagi siswa untuk
bertanya mendorong mendorong siswa yang pemalu agar berani bertanya kepada
gurunya, orang lain dapat mengambil manfaat dari pertanyaan yang diajukan, guru
dapat mengetahui kemampuan siswa-siswanya didalam menangkap materi yang
dijelaskan. Dan harus diperhatikan oleh guru dalam pertanyaan-pertanyaan siswa
yang muncul dari mereka itu hendaklah memiliki faidah, dan bukan untuk
menampakkan kelemahan guru atau mengolok-olok atau mengejek
pertanyaan-pertanyaan seperti ini dan yang semisalnya sepantasnya dicampakkan
ketanah dan tidak ada kemuliaan bagi pelakunya
.9.
Memberikan Penilaian Terhadap Jawaban Siswa
Guru perlu memberikan komentar terhadap jawabn siswa setelah
mengarahkan pertanyaan kepadanya. Yang demikian itu karena siswa terkadang
tidak merasa yakin dengan jawaban yang dia ajukan, dan juga siswa-siswa lain
yang mendengarkan jawaban siswa tersebut sangat haus untuk mengetahui apakah
jawaban siswa tersebut benar ataukah salah. Maka hendaknya seorang guru
memberikan penilaian terhadap jawaban setiap siswa sehingga siswa tersebut
dapat mengambil manfaat melalui koneksi sang guru kepadanya, dan siswa-siswa
yang lain dapat mengambil manfaat dengan mengetahui jawaban yang benar dari
yang salah. Dan hendaknya guru juga memperhatikan kecermatan dan ketelitian
dalam membenarkan dan menyalahkan. Hendaklah dia tidak terburu-buru menyalahkan
siswa secara total, jika didalam jawabannya terdapat sesuatu yang benar, akan
tetapi hendaknya dia mengukuhkan yang benar dan menjelaskannya serta
menerangkan yang salah. Guru semestinya memilih kata-kata untuk menyalahkan, jangan
sampai menggunakan kata-kata kasar atau ungkapan-ungkapan yang merendahkan, sehingga
siswa tidak merasa jatuh mentalnya, dan menghalanginya untuk berani menjawab
pertanyaan guru karena takut terhadap lidah sang guru yang tajam dan
ungkapan-ungkapannya yang kasar. Akan tetapi dalam acuan memberikan motivasi. Inti
dari sifat adil yaitu, anda menyebutkan apa yang terdapat pada jawaban, baik
benar atau yang salah. Kemudian hendaknya guru menjelaskan yang salah dan
menerangkannya.
10.
Mempersiapkan Siswa untuk Menerima Pelajaran
Tidak akan ada perselisihan antara dua orang bahwa
keberpalingan siswa dan kesibukannya dari gurunya, karena sebab apapun, adalah
penghalang baginya untuk memperoleh ilmu dan merupakan sebab yang akan
menghalanginya untuk memahami penjelasan gurunya, dan bahwa konsentrasi siswa
secara total kepada gurunya adalah unsur penting didalam menghasilkan ilmu dan
memahaminya dengan cara yang benar. Karena itu, dianjurkan bagi guru untuk
menarik perhatian anak didiknya kepadanya dari waktu ke waktu. Guru dapat
menggunakan beberapa metode dan taktik yang beragam untuk menarik perhatian
anak didiknya kepadanya.
a.
Metode meminta diam
Yaitu meminta siswa untuk diam dan menyimak dengan
seksama. Metode ini bersifat langsung, umumnya digunakan sebelum mulai
menyampaikannya materi pelajaran dan ketika metode-metode yang lain bersifat
tidak langsung tidak memungkinkan.
b.
Metode panggilan (sistem langsung)
Cara ini dipergunakan ketika memanggil siswa sebelum
memulai pelajaran, dan kadang-kadang dipergunakan di tengah-tengah pelajaran.UNDANG UNDANG KEBAHASAAN
c.
Metode memotivasi untuk mendengar dan menyimak
dengan seksama (sistem tidak langsung)
Metode ini sangat bagus untuk menarik jiwa dan
memotivasinya untuk mendengarkan secara seksama, karena jiwa manusia pada
umumnya enggan dan menjauhi ungkapan-ungkapan dalam bentuk perintah dan
pengharusan. Karena itu sangat tepat bila guru menggunakan metode-metode yang
bersifat tidak langsung dalam menarik dan mengundang indra siswa supaya
tercapai proses pengambilan ilmu dengan jiwa yang nyaman.
11.
Kontak Pendengaran dan Penglihatan Antara Guru & Siswa
Metode menyampaikan pada saat mengajar, atau metode
menyajikan materi pelajaran (menjelaskan) adalah media paling efektif didalam
kontak antara guru dan muridnya, yakni suara guru memiliki keistimewaan kontak
lebih banyak dariapada yang lainnya. Diantaranya yaitu, dilihat dari kedua
jebis kontak tersebut, yaitu pendengaran dan penglihatan, jika digunakan secara
bersamaan dengan baik akan memiliki pengaruh positif luar biasa didalam
mentransfer materi pelajaran, yang lebih baik dibanding jika salah satunya
hilang dari yang lain. Kemudian, kontak yang bersifat penglihatan adakalanya
tidak terwujud pada keseluruhan waktu mengajar, contohnya jika siswa tunanetra,
atau pada sebagian waktu mengajar, jika siswa dalam kondisi tidak fokus, tidak
memperhatikan, atau disibukkan dengan pekerjaan lain sehingga tidak
memperhatikan pelajaran. Adapaun kontak yang bersifat pendengaran akan tidak
terwujud hanya dalam satu kondisi, yaitu jika siswa tunarungu (tuli). Karena
itu, kita katakan bahawa kontak yang bersifat pendengaran dan penglihatan, membantu
guru untuk menguasai dan mengatur kelas, dan sebaliknya membantu siswa dalam
menghafal ilmu pengetahuan dan memeliharanya dari kelupaan.
12.
Metode Dialog dan Pendekatan Logika
Akal dan daya tangkap manusia berbeda-beda dari segi
pemahaman dan kecepatan respon. Manusia juga berbeda-beda dari segi kepatuhan
dan ketundukannya kepada syariat Allah, baik perintah maupun larangan. Di
antara mereka ada orang yang tidak merasa puas dengan dalil kecuali jika tampak
baginya hikmah dari pensyariatan itu, dan diantara mereka ada yang cukup hanya
dengan dalil lalu berhenti disitu.
Pada umumnya diantara para siswa, ada yang mengalami
masalah-masalah ini, diantara mereka ada yang tidak puas dengan sebagian kaidah
dan dasar diistilahkan oleh para ulama kecuali jika tampak baginya sisi hikmah
dari itu dan dianatara mereka ada yang tidak memperoleh pemahaman yang sempurna
kecuali setelah kaidah atau permasalahan tersebut diringkas dan disajikan
kepadanya dengan metode dialog dan pendekatan logika.
.13.
Memberi Kesempatan Kepada Murid untuk Mencari Jawaban
Sesungguhnya tindakan guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mencari jawaban sendiri adalah metode yang bagus dalam
mengoprasikan otak dan memacunya untuk berpikir dan mencari jawabn.Indikasi
metode ini memiliki peran positif adalah, bahwa metode ini dapat mengasah otak
dan indra, dan menjadikannya mencari dengan giat untuk sampai pada jawaban yang
diinginkan, dan ini pada batas substansinya sebagai suatu kemajuaan dan usaha
keras yang ditambahkan kepada perbendaharaan siswa. Penjelasannya guru
melontarkan sebuah permasalahan tertentu, kemudian mendekatkan (jawaban
permasalahan) nya kepada mereka, kemudian meninggalkan jawaban dan putusan
terakhir untuk mereka. Adakalanya permasalahan yang dilontarkan ini mewajibkan
jawaban dari siswa, dan adakalanya tidak mewajibkan hal itu, akan tetapi tetap
menuntut pengoperasian otak dan pengasahan berpikir.
14.
Menggunakan Metode Pengulangan dalam Mengajar
Menggunakan metode pengulangan dalam mengajar memiliki
banyak faidah dan manfaat yang sangat besar. Diantaranya memberi penekanan
terhadap permasalahan yang penting atau hukum yang penting, menegur siswa yang
malas dan yang terjangkit kantuk dan semisalnya, menghafal sesuatu yang
diulang-ulang.
Mengulang tiga kali adalah perbuatan yang sering terjadi
dimasyarakat umum (khususnya kalangan guru). Guru jika hendak melontarkan
berita penting kepada salah seorang siswanya, hendaknya memanggil dengan
namanya sebanyak tiga kali, baru kemudian menyampaikan berita tersebut
kepadanya. Dan silahkan analogikan kepada hal itu, jika mereka adalah
sekelompok orang, maka dia bisa memanggil dengan nama yang menyatukan mereka, seperti
mengatakan, wahai siswa-siswi (sebanyak tiga kali) dan semisal.
15.
Menggunakan Metode Klasifikasi dalam Mengajar
Metode
ini sangat langka ditemukan pada kalangan guru, sedikit sekali mereka yang
menggunakannya ditengah-tengah penyampaian materi pelajaran. Yang dimaksudkan
dengan metode klasifikasi adalah, guru terlebih dahulu mempelajari materi pelajaran
yang hendak disampaikan kepada siswa kemudian mengklasifikasikannya menjadi
beberapa bagian atau urutan atau kelompok atau beberapa poin baru kemudian
menyajikannya kepada siswa. Tidak samar lagi bagi kita akan adanya faidah besar
yang dikandung oleh metode ini bagi siswa, karena metode ini menjadikan siswa
menguasai pembahasan dari semua sisi dan sudutnya, serta menjadikannya mampu
menghafal pelajaran dan menguasainya dengan cepat, disamping menjaga dan
memelihara pelajaran dari kelupaan. Jika siswa lupa sebagian pelajaran kemudian
ingat bahwa jumlahnya sekian atau bagiannya sekian, maka hal itu akan
membantunya mengembalikan pelajaran yang hilang. Barangkali orang yang membaca
buku-buku fiqih akan melihat berbagai macam bentuk klasifikasi, ada syarat-syarat,
wajib-wajib, rukun-rukun, larangan-larangan, dan seterusnya BACA JUGA : SEJARAH BAHASA INDONESIA
No comments:
Post a Comment