sponsor 3

Saturday, September 22, 2018

MAKALAH LENGKAP Sistem dan Metode Mengajar SEORANG GURU

Sistem dan Metode Mengajar

           .1. Metode Praktik (peragaan)
Menyajikan dan menyuguhkan materi pelajaran melalui metode ceramah adalah media yang bagus didalam memperoleh ilmu dan menuntut ilmu. Akan tetapi metode ini akan bisa mencapai hasil gemilang bila digabung dengan metode lain yaitu praktik. Maka apabila metode mengajar yang berbentuk teori digabungkan dengan metode mengajar yang berbentuk teori digabungkan dengan metode praktik dalam waktu yang bersamaan ditengah-tengah proses belajar mengajar, akan menjadi faktor penting yang memperkokoh dan memantapkan pelajaran diotak para siswa dan akan menjaganya dari kelupaan.
Metode praktik adakalanya dari pihak guru dan adakalanya dari pihak siswa. Artinya, bahwa praktik atau peragaan itu bisa saja dilakukan oleh guru ataupun siswa.
      2. Mengajar Lewat Kisah
Kisah memiliki kemampuan luar biasa dalam menarik perhatian jiwa dan memfokuskan indra sepenuhnya kepada orang yang berkisah. Itu karena kisah secara ilmiah sangat disukai jiwa manusia, karena kisah mengandung berita orang-orang yang telah lalu, menyebutkan peristiwa, keanehan-keanehan, dan lain sebagainya. Kisah pada dasarnya memang melekat pada otak dan hampir-hampir tidak terlupakan. Ini adalah perkara yang sangat jelas dan diketahui oleh setiap orang. Karena itu al-qur’an al-karim memberinya perhatian lebih dengan menyebutkan kisah-kisah didalam al-quran karena dapat menghibur hati, memupuk tekad, mengambil ibrah dan pelajaran, mengetahui kisah orang-orang terdahulu, mengenang peristiwa, dan masih banyak lagi. Al-qur’an al-karim tidak memuat kisah-kisah ini semata untuk hiburan saja. Orang yang mencermati kisah-kisah ini akan menemukan diantara bagian-bagiannya dan diantara sisi-sisinya terdapat pengukuhan terhadap perkara-perkara tauhid. Demikian juga terdapat penjelasan hikmah-hikmah Allah yang luar biasa dan SunnahNya pada hamba-hambaNya yang tetap tidak akan berubah dan tidak pula berganti.
3. Membuat Permisalan
Seorang guru dan seorang pendidik perlu saran yang akan mendekatkan masalah yang rumit atau yang misteri kepada otak, atau yang akan memperjelas tema yang sulit. Dengan kata lain, guru kadang dihadapkan pada sebagian kesulitan untuk menyampaikan pelajaran kepada otak pendengar, maka dia butuh kepada sarana lain yang akan membantunya memecahkan permasalahan ini dan membuka jalan dihadapan otak siswa, sehingga dia dapat mempelajari masalah yang sulit dengan mudah dan gampang.
Dari segi bahasa, Shighat “Almatsalu” dan kata-kata yang diambil darinya memiliki arti penggambaran, penjelasan, tampak, hadir, dan mempengaruhi. Dan “Almatsalu” adalah sesuatu yang ibuat yang dijadikan sebagai permisalan, yang dengannya makna akan menjadi jelas, dan ia juga adalah sifat sesuatu.
Membuat perumpamaan mengandung nilai plus bagi daya ingat dan daya paham, serta merupakan visualisasi makna. Membuat pemisahan bisa mendekatkan makna-makna yang rasional kepada contoh-contoh yang bisa dirasa, sehingga makna yang dikehendaki Allah tampak jelas dengan sejelas-jelasnya serta tampak terang dengan seterang-terangnya. Ini termasuk rahmat Allah dan permasalahanNya yang sempurna. Maka hanya bagi Allah-lah pujian yang sempurna, lengkap dan  menyeluruh.
Guru besar SAW. banyak membuat perumpamaan didalam ucapan dan perkataan-perkataan beliau, disebabkan beliau mengetahui bahwa pemisalan mempunyai kemampuan dahsyat dalam mendekatkan makna dan menjelaskan maksud.
4. Metode Membangkitkan Rasa Penasaran
Metode membangkitkan rasa penasaran adalah sebuah metode atau salah satu carauntuk membangkitkan semangatdan mengompori jiwa, karena jiwa manusia selalu merasa penasaran untuk mengetahui setiap sesuatu yang baru. Bahkan mengompori pelajar dan menimbulkan rasa penasaran padanya akan membuatnya menelaah dan memperdalam ilmu dengan penuh rasa haus dan keinginan yang kuat untuk mengetahui sesuatu yang dia merasa penasaran tentangnya.
.5. Menggunakan Isyarat (Gerakan Tangan dan Kepala) Dalam Mengajar.
Guru tidak bisa terlepas dalam kondisi apapun dari (memberikan) isyarat tangan dan kepala dalam praktik mengajarnya. Isyarat akan selalu menyertai si pembicara, apapun jenis pembicaraanya. Sesungguhnya mata murid akan terus mengikuti pada setiap gerakan dan diamnya guru. Oleh karena itu, dia akan terpengaruh dengan reaksi balik yang diciptakan guru. Jadi kesimpulannya, murid dapat terpengaruh dengan gerakan tangan dan kepala. Dan guru seringkali memanfaatkan gerakan-gerakan dan isyarat-isyarat ini dalam beberapa perkara.
Yang pertama, menambah kejelasan dan keterangan serta memberi penekanan pada suatu ucapan.
Yang kedua, menarik perhatian dan mendalamkan dengan mantap sebagian makna didalam otak.
Yang ketiga, untuk meringkas.
.6. Menggunakan Gambar Untuk Menjelaskan dan Menerangkan.
Guru sangat membutuhkan sarana-sarana yang membantunya dalam menyampaikan materi pelajaran dengan bentuk yang lebih utama dan lebih mudah. Diantara sarana-sarana tersebut adalah papan tulis, dimana guru akan dapat membantu proses penyampaian materinya dengan menulis atau menggambar diatas papan tulis dan sejenisnya. Anda bisa melakukan perbandingan antara guru yang menggabungkan antara ceramah dan menulis atau menggambar dipapan tulis dengan guru yang hanya menggunakan metode ceramah saja. Pasti yang pertama akan lebih cepat dipahami. Ini merupakan perkara yang tidak membutuhkan bukti lagi untuk menetapkannya. Guru yang pertama telah mendahului kecanggihan sistem pendidikan modern sejak 14 abad yang lalu, dimana beliau membantu ucapannya disebagian pembicaraanya dengan gambar-gambar yang akan mendekatkan makna kepada otak dan membantu menghafal.
7. Menggunakan Metode Tanya Jawab Pada Saat Mengajar
Untuk menarik perhatian siswa, guru memerlukan sarana yang beraneka dan metode yang beragam. Guru harus memvariasikan antara sarana-sarana tersebut supaya siswa tidak gemar dengan satu metode tertentu, lalu terbiasa dengannya kemudian hal itu tidak memberikan kesan dan pengaruh padanya, dengan dasar hukum kebiasaan. Di antara sarana menarik perhatian yang dibutuhkan guru adalah menggunakan metode pertanyaan diawal pembicaraan atau ditengah-tengah pembicaraan, untuk menarik perhatian siswa dan memotivasinya untuk menghadirkan pikiran.
Ungkapan “maukah” adalah kata tanya yang berfungsi untuk mengingatkan dan memberikan motivasi untuk menangkap apa yang disampaikan dan memahaminya sesuai dengan yang wajah esensinya.
Rasulullah tidak menunjuk orang tertentu untuk menjawab pertanyaan yang dilantarkan, akan tetapi ungkapan-ungkapan beliau pada umumnya menggunakan bentuk jamak secara umum. Ini memberi kita pelajaran bahwa guru semestinya melantarkan pertanyaan terlebih dahulu, agar para siwa secara keseluruhan ikut ambil bagian dalam menemukan jawaban bagi pertanyaan yang dilantarkan tersebut. Kemudian dianjurkan bagi guru agar memberikan waktu yang cukup sebelum mulai mendengar jawaban siswa, yang demikian itu karena kemampuan akal siswa berbeda-beda dan tidak sama satu dengan yang lainnya, sebagian mereka ada yang cepat dan sebagian lagi ada yang lebih lambat menghadirkan akalnya. Dengan ini tampaklah bagi anda kesalahan yang dilakukan sebagian guru, yaitu memberikan pertanyaan kepada siswa seusai urutan absensi atau sesuai urutan tempat duduk mereka didalam kelas, karena metode ini menjadikan siswa lain yang tidak mendapat bagian, tidak merasa ikut terbebani dengan beban mencari jawaban, karena merasa cukup dihadapi oleh siswa yang ditunjuk oleh guru. Adakalanya guru bertanya kepada sebagian siswanya dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti guru bermaksud mengejutkan siswa tertentu untuk menguji kondisinya atau mengingatkannya dari kelalaiannya dan semisalnya.
8. Guru Memotivasi Siswanya untuk Mengajukan Pertanyaan
Pertanyaan dapat menghilangkan banyak kesalahan dan kekeliruan yang kadang-kadang siswa terjatuh didalamnya, dimana ketika guru memaparkan penjelasan materi pelajarannya, dia tidak mengetahui dengan pasti, apakah mereka telah memahami materi pelajarannya sebagaimana mestinya ataukah tidak. Dan cara untuk mengetahuinya adalah dengan bertanya kepada mereka tentang sebagian materi yang telah dipaparkan, dan lebih bagus dari itu jika siswa yang memulai bertanya kepada gurunya tentang apa yang masih menjadi problem baginya. Bertanya itu dapat memperjelas makna-makna yang tidak mampu untuk dipahami dan dihayati oleh siswa, dan dapat memantapkan jawaban diotak penanya karena darinya timbul pertanyaan. Bertanya dapat menghilangkan kejahilan.
Kebodohan atau bahasa arabnya “Al’iyyu” dengan mengkasrahkan huruf ‘ain dan mentasydidkan huruf ya’ artinya ngelantur dalam berbicara dan tidak akurat, demikian disebutkan dalam ash-syihah. Dan didalam an-Nihayah dan Lisan al-arab, ”Al’iyyu” adalah kejahilan, dan maknanya bahwa kejahilan adalah penyakit, dan pengobatannya adalah bertanya dan belajar. Lantaran itu kita katakan kepada guru agar mau momtivasi para siswanya untuk bertanya kepadanya. Di dalam atsar-atsar yang sudah ada terdapat anjuran agar guru mengucapkan “bertanyalah kepadaku!”. Di mana dalam ucapan ini terkandung motivasi bagi bagi siswa untuk bertanya mendorong mendorong siswa yang pemalu agar berani bertanya kepada gurunya, orang lain dapat mengambil manfaat dari pertanyaan yang diajukan, guru dapat mengetahui kemampuan siswa-siswanya didalam menangkap materi yang dijelaskan. Dan harus diperhatikan oleh guru dalam pertanyaan-pertanyaan siswa yang muncul dari mereka itu hendaklah memiliki faidah, dan bukan untuk menampakkan kelemahan guru atau mengolok-olok atau mengejek pertanyaan-pertanyaan seperti ini dan yang semisalnya sepantasnya dicampakkan ketanah dan tidak ada kemuliaan bagi pelakunya
.9. Memberikan Penilaian Terhadap Jawaban Siswa
Guru perlu memberikan komentar terhadap jawabn siswa setelah mengarahkan pertanyaan kepadanya. Yang demikian itu karena siswa terkadang tidak merasa yakin dengan jawaban yang dia ajukan, dan juga siswa-siswa lain yang mendengarkan jawaban siswa tersebut sangat haus untuk mengetahui apakah jawaban siswa tersebut benar ataukah salah. Maka hendaknya seorang guru memberikan penilaian terhadap jawaban setiap siswa sehingga siswa tersebut dapat mengambil manfaat melalui koneksi sang guru kepadanya, dan siswa-siswa yang lain dapat mengambil manfaat dengan mengetahui jawaban yang benar dari yang salah. Dan hendaknya guru juga memperhatikan kecermatan dan ketelitian dalam membenarkan dan menyalahkan. Hendaklah dia tidak terburu-buru menyalahkan siswa secara total, jika didalam jawabannya terdapat sesuatu yang benar, akan tetapi hendaknya dia mengukuhkan yang benar dan menjelaskannya serta menerangkan yang salah. Guru semestinya memilih kata-kata untuk menyalahkan, jangan sampai menggunakan kata-kata kasar atau ungkapan-ungkapan yang merendahkan, sehingga siswa tidak merasa jatuh mentalnya, dan menghalanginya untuk berani menjawab pertanyaan guru karena takut terhadap lidah sang guru yang tajam dan ungkapan-ungkapannya yang kasar. Akan tetapi dalam acuan memberikan motivasi. Inti dari sifat adil yaitu, anda menyebutkan apa yang terdapat pada jawaban, baik benar atau yang salah. Kemudian hendaknya guru menjelaskan yang salah dan menerangkannya.
10. Mempersiapkan Siswa untuk Menerima Pelajaran
Tidak akan ada perselisihan antara dua orang bahwa keberpalingan siswa dan kesibukannya dari gurunya, karena sebab apapun, adalah penghalang baginya untuk memperoleh ilmu dan merupakan sebab yang akan menghalanginya untuk memahami penjelasan gurunya, dan bahwa konsentrasi siswa secara total kepada gurunya adalah unsur penting didalam menghasilkan ilmu dan memahaminya dengan cara yang benar. Karena itu, dianjurkan bagi guru untuk menarik perhatian anak didiknya kepadanya dari waktu ke waktu. Guru dapat menggunakan beberapa metode dan taktik yang beragam untuk menarik perhatian anak didiknya kepadanya.
a.           Metode meminta diam
Yaitu meminta siswa untuk diam dan menyimak dengan seksama. Metode ini bersifat langsung, umumnya digunakan sebelum mulai menyampaikannya materi pelajaran dan ketika metode-metode yang lain bersifat tidak langsung tidak memungkinkan.
b.          Metode panggilan (sistem langsung)
Cara ini dipergunakan ketika memanggil siswa sebelum memulai pelajaran, dan kadang-kadang dipergunakan di tengah-tengah pelajaran.UNDANG UNDANG KEBAHASAAN
c.          Metode memotivasi untuk mendengar dan menyimak dengan seksama (sistem tidak langsung)
Metode ini sangat bagus untuk menarik jiwa dan memotivasinya untuk mendengarkan secara seksama, karena jiwa manusia pada umumnya enggan dan menjauhi ungkapan-ungkapan dalam bentuk perintah dan pengharusan. Karena itu sangat tepat bila guru menggunakan metode-metode yang bersifat tidak langsung dalam menarik dan mengundang indra siswa supaya tercapai proses pengambilan ilmu dengan jiwa yang nyaman.
11. Kontak Pendengaran dan Penglihatan Antara Guru & Siswa
Metode menyampaikan pada saat mengajar, atau metode menyajikan materi pelajaran (menjelaskan) adalah media paling efektif didalam kontak antara guru dan muridnya, yakni suara guru memiliki keistimewaan kontak lebih banyak dariapada yang lainnya. Diantaranya yaitu, dilihat dari kedua jebis kontak tersebut, yaitu pendengaran dan penglihatan, jika digunakan secara bersamaan dengan baik akan memiliki pengaruh positif luar biasa didalam mentransfer materi pelajaran, yang lebih baik dibanding jika salah satunya hilang dari yang lain. Kemudian, kontak yang bersifat penglihatan adakalanya tidak terwujud pada keseluruhan waktu mengajar, contohnya jika siswa tunanetra, atau pada sebagian waktu mengajar, jika siswa dalam kondisi tidak fokus, tidak memperhatikan, atau disibukkan dengan pekerjaan lain sehingga tidak memperhatikan pelajaran. Adapaun kontak yang bersifat pendengaran akan tidak terwujud hanya dalam satu kondisi, yaitu jika siswa tunarungu (tuli). Karena itu, kita katakan bahawa kontak yang bersifat pendengaran dan penglihatan, membantu guru untuk menguasai dan mengatur kelas, dan sebaliknya membantu siswa dalam menghafal ilmu pengetahuan dan memeliharanya dari kelupaan.
12. Metode Dialog dan Pendekatan Logika
Akal dan daya tangkap manusia berbeda-beda dari segi pemahaman dan kecepatan respon. Manusia juga berbeda-beda dari segi kepatuhan dan ketundukannya kepada syariat Allah, baik perintah maupun larangan. Di antara mereka ada orang yang tidak merasa puas dengan dalil kecuali jika tampak baginya hikmah dari pensyariatan itu, dan diantara mereka ada yang cukup hanya dengan dalil lalu berhenti disitu.
Pada umumnya diantara para siswa, ada yang mengalami masalah-masalah ini, diantara mereka ada yang tidak puas dengan sebagian kaidah dan dasar diistilahkan oleh para ulama kecuali jika tampak baginya sisi hikmah dari itu dan dianatara mereka ada yang tidak memperoleh pemahaman yang sempurna kecuali setelah kaidah atau permasalahan tersebut diringkas dan disajikan kepadanya dengan metode dialog dan pendekatan logika.
.13. Memberi Kesempatan Kepada Murid untuk Mencari Jawaban
Sesungguhnya tindakan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari jawaban sendiri adalah metode yang bagus dalam mengoprasikan otak dan memacunya untuk berpikir dan mencari jawabn.Indikasi metode ini memiliki peran positif adalah, bahwa metode ini dapat mengasah otak dan indra, dan menjadikannya mencari dengan giat untuk sampai pada jawaban yang diinginkan, dan ini pada batas substansinya sebagai suatu kemajuaan dan usaha keras yang ditambahkan kepada perbendaharaan siswa. Penjelasannya guru melontarkan sebuah permasalahan tertentu, kemudian mendekatkan (jawaban permasalahan) nya kepada mereka, kemudian meninggalkan jawaban dan putusan terakhir untuk mereka. Adakalanya permasalahan yang dilontarkan ini mewajibkan jawaban dari siswa, dan adakalanya tidak mewajibkan hal itu, akan tetapi tetap menuntut pengoperasian otak dan pengasahan berpikir.
14. Menggunakan Metode Pengulangan dalam Mengajar
Menggunakan metode pengulangan dalam mengajar memiliki banyak faidah dan manfaat yang sangat besar. Diantaranya memberi penekanan terhadap permasalahan yang penting atau hukum yang penting, menegur siswa yang malas dan yang terjangkit kantuk dan semisalnya, menghafal sesuatu yang diulang-ulang.
Mengulang tiga kali adalah perbuatan yang sering terjadi dimasyarakat umum (khususnya kalangan guru). Guru jika hendak melontarkan berita penting kepada salah seorang siswanya, hendaknya memanggil dengan namanya sebanyak tiga kali, baru kemudian menyampaikan berita tersebut kepadanya. Dan silahkan analogikan kepada hal itu, jika mereka adalah sekelompok orang, maka dia bisa memanggil dengan nama yang menyatukan mereka, seperti mengatakan, wahai siswa-siswi (sebanyak tiga kali) dan semisal.
15. Menggunakan Metode Klasifikasi dalam Mengajar
Metode ini sangat langka ditemukan pada kalangan guru, sedikit sekali mereka yang menggunakannya ditengah-tengah penyampaian materi pelajaran. Yang dimaksudkan dengan metode klasifikasi adalah, guru terlebih dahulu mempelajari materi pelajaran yang hendak disampaikan kepada siswa kemudian mengklasifikasikannya menjadi beberapa bagian atau urutan atau kelompok atau beberapa poin baru kemudian menyajikannya kepada siswa. Tidak samar lagi bagi kita akan adanya faidah besar yang dikandung oleh metode ini bagi siswa, karena metode ini menjadikan siswa menguasai pembahasan dari semua sisi dan sudutnya, serta menjadikannya mampu menghafal pelajaran dan menguasainya dengan cepat, disamping menjaga dan memelihara pelajaran dari kelupaan. Jika siswa lupa sebagian pelajaran kemudian ingat bahwa jumlahnya sekian atau bagiannya sekian, maka hal itu akan membantunya mengembalikan pelajaran yang hilang. Barangkali orang yang membaca buku-buku fiqih akan melihat berbagai macam bentuk klasifikasi, ada syarat-syarat, wajib-wajib, rukun-rukun, larangan-larangan, dan seterusnya BACA JUGA : SEJARAH BAHASA INDONESIA

No comments:

Post a Comment